Ligina Sportindo

Football Officials - Agents Licensed by the Federation of International Football Associations (FIFA)

Profile

....///
Showing posts with label Yon Moeis Wartawan Tempo. Show all posts
Showing posts with label Yon Moeis Wartawan Tempo. Show all posts

23 January 2009

Sports Agents Licensed by FIFA


Saturday, 13 September, 2008 | 13:47 WIB

TEMPO Interactive, Jakarta:Seven agents representing professional football players in Indonesia were licensed by the Federation of International Football Associations (FIFA) after they passed a criteria test in September last year.

Four of the seven agencies are Indonesians. They are Azizah Noor (Viv Football Indo Management), Rudi Hermanto (Indo Bola Mandiri), Eddy Syahputra (Ligina Sportindo) and Ratna Mustika (Champion Stars). The other three are Alex Banmou (a Cameroon national, Bangun Sportindo), Onana Jules (a Cameroon national, Mutiara Hitam Sport & Management), and Nelson Leon Sanchez (a Chilean, PT Sanchezgol Management).

"The FIFA license will open up opportunities for these agents to go international," Ligina owner, Eddy said. "But for now, we will focus on the local talent."

All Indonesia Football Federation (PSSI) Status Conversion and Transfer Status director, Max Boboy said that as FIFA-licensed agents, they can buy and sell players around the world. "They are authorized to do this anywhere," he said.

Meanwhile, four other Indonesian agents who passed the test but who have not been licensed by FIFA are Jaime Rojas, Yeyen Tumena, Slamet Owrip Prihadi and M. Haris Fambudy. "Passing the test is not enough to be an agent licensed by FIFA. They need to fulfill other requirements, like being insured. They must immediately submit the necessary requirements if they want to obtain the FIFA license," Max Boboy said.

YON MOEIS
Sumber : Tempointeractive.com

Nwokolo Bakal Tinggalkan Persija


Kamis, 20 November 2008 | 20:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Greg Nwokolo dan Robertino Gabriel Pugliara bisa meninggalkan Persija Jakarta jika klub elite Ibukota itu tidak segera memenuhi kewajibannya. Kedua pemain asing ini belum menerima uang muka 25 persen dari nilai kontrak yang seharusnya diterima Maret lalu dan belum menerima gaji sejak Agustus hingga November ini.

Eddy Syahputra, pemilik agen pemain Ligina Sportindo, membenarkan kondisi terakhir kedua pemainnya itu. “Wajar jika kini mereka menuntut hak setelah keduanya menjalani kewajiban sebagai pemain,” kata Eddy di Jakarta kemarin. “Mereka telah membawa Persija ke papan atas Liga.”

Selain Nwokolo (Nigeria) dan Robertino (Argentina), Ligina Sportindo juga memasok dua pemain lokal ke Persija, yaitu Firmansyah dan Bachtiar. Menurut Eddy, empat pemain ini sudah ada yang mengincar. Tapi mereka tidak bisa begitu saja meninggalkan Persija.

Menyikapi kondisi empat pemainnya itu, Eddy sudah berkirim surat ke Badan Liga Indonesia. Direktur kompetisi Badan Liga Joko Driyono, menurut Eddy, akan menjadi penghubung antara Ligina Sportindo dan manajemen Persija. Bahkan Joko akan segera memanggil pengelola Persija untuk menyelesaikan persoalan ini.

“Mas Joko berpesan kepada saya agar pemain tetap patuh kepada klub dan tidak boleh mogok main dan latihan,” kata Eddy. YON MOEIS

Sumber : TempoInteraktif.com

22 January 2009

Daftar Hitam Pemain Asing


Yon Moeis Wartawan Tempo.
Eddy Syahputra agaknya ingin mengunci perasaannya sejenak. Dia berada di rumah ketika Persija Jakarta menghentikan perlawanan PSIS Semarang 5-0 di Stadion Gelora Bung Karno, Minggu malam, 7 September lalu. Partai yang disaksikan sekitar 40 ribu pasang mata itu tentu saja–setidak-tidaknya bagi Eddy–sangat tidak menyenangkan. Malam yang dia harap menjadi malam yang indah seketika berubah menjadi malam pembantaian.

Bisa jadi Eddy Syah–begitu lelaki berdarah Aceh yang pesolek itu biasa dipanggil–tak ingin ikut menumpahkan perasaannya pada partai penting itu. Dia tak ingin terlibat lebih dalam dan memilih menonton dari rumah karena pemain-pemainnya bertanding di sana.

Sebagai agen pemain yang sudah berlisensi FIFA, Eddy tak bisa “menjamah” pemain ketika pemainnya sudah menjadi milik klub. Yang hanya bisa dia lakukan adalah mengoreksi dari jauh dua pemain Persija, yakni Roberto Pugliara, yang tak mampu berperan sebagai jangkar, dan Greg Nwokolo, yang selalu tergesa-gesa masuk ke jantung pertahanan lawan. Atau kepada Christian Gaston Castano (pemain berdarah Argentina itu bergaji Rp 40 juta di PSIS), yang belum juga mencetak gol.

Pemilik agen pemain Ligina Sportindo itu tak bisa melakukan apa-apa ketika wasit sudah meniup peluit tanda pertandingan dimulai. Jika dia harus membisikkan sesuatu, bisikan itu adalah bahwa pemainnya harus bermain baik dan berkelakuan baik sepanjang 90 menit, saat menjelang pertandingan.

Rabu siang lalu, saya bertemu dengan Eddy ketika pemain asing kembali digugat. Sambil menikmati sop kaki dan tempe penyet di lantai bawah pusat belanja FX, kami ngobrol seputar kelakuan pemain-pemain asing yang bermain di Liga Super. Saya ingin bertemu dengan kawan yang satu ini setelah Max Boboy, Direktur Status dan Alih Status PSSI, mengingatkan saya akan pemain-pemain asing yang masuk daftar hitam.

Om Max–begitu saya memanggil Max Boboy–terlihat begitu cemas melihat Liga Super masih diwarnai aksi-aksi konyol pemain asing. Dia terlihat sangat emosi mendengar aksi tidak terpuji yang dilakukan Emile Bertrand Mbamba, pemain Arema Malang, ketika terjadi kerusuhan dalam partai Arema versus PKT pada 13 September lalu. Pemain berdarah Kamerun yang pernah memperkuat Vitoria Setubal, Liga Super Portugal, itu akhirnya kena sanksi Komisi Disiplin lima tahun dan denda Rp 50 juta. Hukuman ini tentu saja menamatkan kariernya di Indonesia.

Mbamba adalah pemain hitam yang masuk bersama 45 pemain lain yang not recommended, yang tentu saja membetot perhatian Max. Max begitu benci dengan mereka–para pemain asing itu–yang mengumbar emosi.

Saya tak hendak memancing emosi Max Boboy ketika dia menyebut pertalian pemain asing dengan pemilik klub dan juga agen pemain ketika peristiwa yang menjijikkan itu terjadi di lapangan. Saya hanya terdiam saat dia kembali menegaskan bahwa klub, juga agen pemain, tidak boleh begitu saja melepas pemain (asing). Mereka, kata Max, harus ikut bertanggung jawab dan ikut membina.

Eddy Syah seketika bereaksi ketika saya meneruskan masalah ini kepadanya. Ketika obrolan seputar pemain asing berlangsung, dia tidak dalam posisi dilematis. Dia sangat apresiatif ketika Pierre Njanka Beaka–lahir di Kamerun, 15 Maret 1975, dan pernah bermain di Al-Wahda FC–mengancam manajemen Persija agar membayar kontraknya. Dia juga sependapat jika Mbamba mendapat hukuman berat sesuai dengan yang dia lakukan. Keputusan menghukum pemain Arema itu selama lima tahun adalah keputusan yang tepat jika tidak dikatakan sebagai shock therapy.

Wahai pemain asing, masih inginkah kalian mencari makan di Indonesia?
Sumber : Koran Tempo, Minggu, 12 Oktober 2008, Ilustrasi Imam Yunni